Troli  

(kosong)

Pembayaran

Butuh Bantuan?

Customer Service

Yahoo detect ...



Marketing

Yahoo detect ...



Yahoo detect ...


Pustaha Tumbaga Holing (2 Buku)

Pustaha Tumbaga Holing (2 Buku)

Rp.120,000

Buku dengan judul Pustaha Tumbaga Holing tulisan Raja Patik Tampubolon, terbit pertama sekali pada tahun 1964. Terbitan pertama itu adalah stensilan yang diketik setengah spasi. Terdiri atas 5 buku yang dijilid menjadi satu buku yang cukup tebal.
Buku I, berisi: Turi-turian Batak taringot tu Tarombo
Buku II, berisi: Trui-turian tarombo Sejarah Batak sian SiRaja Batak Sahat tu Nuaeng.
Buku III, berisi: Torsa Ni Halak Batak, Patik / Uhum (Undang-undang Batak)
Buku IV, berisi: Pustaha Parhalaan
Buku V, berisi: Surat Batak

Terbitan kedua ini isi buku tidak diubah, sama dengan cetakan pertama. Lima buku yang dijilid menjadi satu buku pada cetakan pertama, pada cetakan kedua ini dijadikan menjadi dua jilid. Buku I dan II dijadikan satu jilid (jilid I), buku III, IV, V dijadikan satu jilid (jilid II). Penomoran pada terbitan kedua ini diubah sedemikian rupa agar lebih memudahkan kepada pembaca. Demikian juga ejaan telah disesuaikan dengan ejaan yang berlaku sekarang. Selain itu, pada terbitan kedua ini disajikan juga riwayat hidup Raja Patik Tampubolon yang dipungut dari buku yang ditulisnya, dari uraian Lothar Schreiner dalam bukunya, dan dari ahli warisnya. Dengan penyajian riwayat hidup ini, pembaca akan lebih mengenal tentang diri Raja Patik Tampubolon.

Lothar Schreiner yang pernah menjadi dosen di STT HKBP Pematang Siantar (1973-1991), telah membicarakan buku Pustaha Tumbaga Holing ini dalam buku Adat dan Injil yang diterbitkan BPK Gunung Mulia Jakarta 1996. Dikatakan bahwa buku Pustaha Tumbaga Holing harus dipahami sebagai Alkitab Siraja Batak, maksudnya Golongan Siraja Batak yang pernah dibentuk Raja Patik Tampubolon, dan sempat menjadi satu kekuatan yang mengancam kehidupan gereja Batak.

Lothar Schreiner membicarakan buku Pustaha Tumbaga Holing di buku yang ditulisnya Adat Dan Injil tentu saja dengan kacamata Jermannya. Terasa kurang adil bila kita langsung mengaminkan apa yang ditangkap Lothar Schreiner di buku Pustaha Tumbaga Holing tersebut. Rasanya, ada baiknya bila kita secara langsung membaca buku ini dan menggunakan kaca mata Batak. Dalam rangka itulah buku ini diterbitkan ulang dengan penyajian yang lebih baik. Mudah-mudahan dapat lebih banyak orang Batak membacanya. Pada gilirannya nanti, kita dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya manusia Batak dulu. Kolot? Usang? Terbelakang? Atau masih ada nilai-nilai luhur yang perlu kita pungut.