Troli  

(kosong)

Pembayaran

Butuh Bantuan?

Customer Service

Yahoo detect ...



Marketing

Yahoo detect ...



Yahoo detect ...


Umpasa, Umpama & Ungkapan Dalam Bahasa Batak

Umpasa, Umpama & Ungkapan Dalam Bahasa Batak

Apa-apa yang tersurat dan tersirat di umpasa, umpama dan ungkapan itu apakah masih dihayati dan terimplementasi didalam kehidupan orang Batak sekarang ini? Atau itu hanya menjadi milik leluhur orang Batak dulu pada masa hidupnya?

More

Rp.40,000

9 items in stock

Bahasa menunjukkan bangsa, demikian orang-orang bijak berkata. Mengapa dan bagaimana jalannya sampai orang bijak berkata demikian?

Kalau kita sadari bahwa salah-satu fungsi bahasa dalam hidup manusia ialah sebagai alat berfikir. Apa yang dipikirkan oleh pemilik bahasa itu tersimpan dalam bahasanya. Terlebih di pantun (umpasa) dan di peribahasa (umpama), demikian juga diungkapan-ungkapan (idiom) dapat kita lihat sejauh mana manusia Batak memikirkan hidup dan kehidupan yang dihadapinya.

 

Buku ini cetakan pertama (tahun 2003) diberi judul : Mengenal Budaya Batak Melalui Umpasa, Umpama, dan Ungkapan, karena di umpasa/umpama, dan ungkapan itu tersimpan adat budaya batak. Pada cetakan kedua ini diganti judulnya menjadi : UMPASA, UMPAMA, DAN UNGKAPAN DALAM BAHASA BATAK TOBA. Mungkin judul cetakan kedua ini lebih menarik, kiranya orang Batak mau membacanya dengan cermat.

Apa-apa yang tersurat dan tersirat di umpasa, umpama dan ungkapan itu apakah masih dihayati dan terimplementasi didalam kehidupan orang Batak sekarang ini? Atau itu hanya menjadi milik leluhur orang Batak dulu pada masa hidupnya?

Menurut penulis, banyak nilai-nilai yang baik tersimpan di umpasa/umpama, dan ungkapan Batak Toba. Jangan karena barang lama dianggap tidak berharga. Perlu kita pahami satu demi satu makna yang ada diumpasa, umpama dan ungkapan, dan setelah dipahami lalu dihayati, dan seterusnya dimasyarakatkan. Jangan kita lebih suka mengutip prinsip orang sileban seperti sibontar mata, bila perbendaharaan kita masih ada yang mungkin lebih sesuai dengan kepribadian kita.

Penulis tidak bermaksud melap-lap nilai-nilai lama untuk dibanggakan, tetapi nilai-nilai lama itu hendaklah dijadikan tempat berpijak dalam menerima nilai-nilai baru dari berbagai penjuru. Dan dalam rangka pembauran antar etnis di Republik Indonesia yang kita cintai ini, marilah kita saling mengenal, setelah saling memperkenalkan diri. Karena tak kenal menjadi tak sayang. Karena itu diharapkan pula suku-suku bangsa pendukung Republik Indonesia dapat memperkenalkan budayanya yang tesimpan di pantun-pantun dan peribahasanya, agar jadi milik bersama, milik manusia Indonesia. Dengan demikian kita tidak begitu mudah ditiup arus globalisasi yang belum tentu kondusif untuk kehidupan kita.