Troli  

(kosong)

Pembayaran

Butuh Bantuan?

Customer Service

Yahoo detect ...



Marketing

Yahoo detect ...



Yahoo detect ...


Meninggal Adat Dalihan Natolu

Meninggal Adat Dalihan Natolu

Rp.40,000

2 items in stock

Warning: Last items in stock!

Ada dua tata acara adat Dalihan Natolu yang cukup menyita waktu, pikiran, dan biaya. Kedua tata acara tersebut ialah mengawinkan anak dan menghadapi yang meninggal, terutama yang sudah bercucu. Tata acara mengawinkan anak telah disajikan dalam satu buku dengan judul Perkawinan Adat Dalihan Natolu. Tata acara menghadapi orang yang meninggal disajikan dalam buku ini dengan judul Meninggal Adat Dalihan Natolu.

Mungkin ada yang menganggap, bahwa mengangkat ke permukaan nilai-nilai adat budaya Dalihan Natolu sebagai pemikiran primordial, atau kebanggaan etnis. Anggapan tersebut cukup logis atau dapat diterima akal sehat. Tetapi jangan dinilai sebagai sikap mengelap-lap untuk dibanggakan. Perlu kita ingat bahwa warga adat Dalihan Natolu terutama yang ada di parserakan ada kecenderungan menggampangkan adat itu sebagai akibat kurangnya pemahaman pada adat budaya itu sendiri. Bagaimana adat budaya itu diwariskan bila mereka kurang pemahaman?

Selain itu warga adat budaya Dalihan Natolu di parserakan tidak lagi hanya berkerabat kepada sesama warga adat budaya Dalihan Natolu. Sudah cukup banyak warga non-Dalihan Natolu sebagai boru atau sebagai hula-bula. Sebagai boru atau sebagai hula-hula ada hak dan kewajiban menghadapi acara yang disebut diatas. Apakah hak dan kewajiban itu ditiadakan saja karena mereka bukan warga adat budaya Dalihan Natolu? Dengan kata lain perlu keterbukaan agar hubungan berkerabat itu terjalin harmonis di kemudian hari. Sebab kini, terlebih dimasa mendatang unsur kerabat itu tidak lagi selalu sesama warga adat Dalihan Natolu.

Dikota-kota besar dan di parserakan lainnya, bertemulah sesama warga adat dalihan natolu yang berasal dari puak dan luat yang berbeda. Perbedaan asal tersebut melahirkan perbedaan versi. Perbedaan versi itu pada gilirannya melahirkan perdebatan. Adakalanya seseorang itu ngotot mempertahankan versi menurut luatnya, bahkan ada yang ngotot mempertahankan versi menurut marganya. Apabila perbedaan versi yang melahirkan perdebatan ini dibiarkan lebih lama, maka kehadiran kerabat tidak lagi meringankan dukacita keluarga, malah menimbulkan beban pikiran menawarkan solusi menghilangkan perbedaan versi tesebut, adalah juga salah satu misi buku ini. Pada suatu ketika kelak warga adat Dalihan Natolu akan memilih salah satu yang dianggap lebih logis menurut adat.

Satu lagi hal yang perlu menjadi perhatian waraga adat Dalihan Natolu ialah tuduhan bahwa adat itu bertentangan dengan Alkitab. Memang dapat diakui bahwa sebelum Alkitab datang di Tapanuli, adat itu berkaitan dengan kepercayaan lama, yaitu penyembahan dan pemujaan terhadap roh leluhur. Benarkan adat budaya Dalihan Natolu sekarang masih terkait dengan kepercayaan lama? Tidakkah perlu dikaji, mana adat budaya Dalihan Natolu itu yang sejalan dengan Alkitab dan mana yang masih bertentangan? Pertanyaan tersebut adalah juga yang mendorong penulis mempelajari adat budaya itu, khususnya mengenai yang meninggal, dan menyajikannya dalam buku ini.

Mudah-mudahan apa yang disajikan dalam buku ini bermanfaat bagi warga adat dalihan natolu dan warga non-dalihan natolu yang terkait.